Perpisahan Tanpa Jabat Tangan

Perpisahan Tanpa Jabat Tangan

Sedih 🙁

Belum juga mulai nulis, saya sudah merasa sedih.

Betapa pandemi yang terjadi sekarang ini membawa banyak perubahan dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat. Termasuk masa pendidikan Hanum di sekolah SMP negeri 236 Jakarta yang sebentar lagi akan berakhir.

Semua kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak awal tahun ajaran mulai dari Pendalaman Materi (PM) untuk persiapan Ujian Nasional sampai persiapan acara perpisahan, semuanya gagal total tidak jadi dilaksanakan.

Baca juga : Hanum dan Persiapan Menjelang UNBK SMP 2020

Tahun ini seperti menjadi tahun kesedihan bagi Hanum dan teman-temannya di kelas 9. Mereka seperti dipaksa berpisah tanpa kesan, karena kegiatan sekolah sudah dihentikan sejak wabah virus corona mulai merebak pertengahan Maret  2020 lalu.

Bahkan sampai saat ini, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih diberlakukan, sehingga kecil kemungkinannya sekolah akan dibuka dalam waktu dekat.

Praktis Hanum tidak lagi bertemu dengan teman-temannya secara langsung. Mereka hanya saling berkomunikasi lewat whatsapp. Hanum sesekali melakukan video call dengan sahabat terdekatnya di sekolah.

Rasa sedih itu makin terasa ketika Hanum cerita bahwa salah seorang guru meminta setiap kelas membuat video perpisahan. Kebetulan dari kelasnya, Hanum yang berinisiatif mengkoordinir teman-temannya untuk membuat video perpisahan. Nantinya video dari masing-masing kelas akan dikompilasi menjadi video perpisahan sekolah SMPN 236.

Dan saat mengedit video itulah, Hanum seperti disadarkan akan realita perpisahan sekolahnya. Berkali-kali Hanum bilang sedih. Raut wajahnya muram. Hanum seperti tidak percaya bahwa masa sekolahnya di SMP akan berakhir dengan cara yang tidak biasa.

Benar-benar perpisahan tanpa jabat tangan.

Ketika saya diperlihatkan video jadinya, perasaan saya campur aduk antara senang dan terharu.

Senang karena Hanum telah menyelesaikan masa sekolah SMP dengan baik. Prestasi akademik Hanum terbilang sangat baik dan selalu menjadi bagian dari siswa dengan nilai tertinggi di kelasnya. Saya cukup optimis, apabila UN dilaksanakan pun nilai Hanum cukup memuaskan sesuai prediksi dari sekolah.

Namun di sisi lain, saya juga merasa terharu. Karena gadis kecil saya kini sudah mulai beranjak dewasa. Oleh karenanya tanggung jawab saya sebagai ibu semakin berat. Terutama dalam hal mendidik Hanum sesuai tuntunan agama.

Baca juga : Nasehat Dalam Mendidik Anak

Rasanya baru kemarin saya mules-mules saat mau melahirkan baby Hanum. Tau-tau sekarang Hanum udah mau SMA aja. Ternyata 15 tahun berlalu dengan cepatnya.

Dan karena wabah corona masih belum berakhir, seluruh tahapan PPDB tahun 2020 ini pun akan dilaksanakan secara online tanpa tatap muka untuk menghindari kerumunan massal.

Walopun secara pribadi saya masih keberatan kalo sekolah dibuka dalam situasi pandemi begini, saya berharap Hanum bisa masuk ke SMA yang diinginkan.

 

YOU MIGHT ALSO LIKE

Leaver your comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.