Seminar Peran Ibu Dalam Mencegah Perilaku Menyimpang

Seminar Peran Ibu Dalam Mencegah Perilaku Menyimpang

Jam 6 pagi kemarin saya sudah berada di kereta commuter menuju Bogor. Kemarin saya ada jadwal menghadiri seminar dalam rangka menyambut hari ibu. Seminar yang bertajuk Peran Ibu dalam Mencegah Perilaku Menyimpang dengan nara sumber Prof. Dr.Ir Euis Sunarti.

Prof Euis adalah seorang dosen dan guru besar bidang ketahanan keluarga di IPB. Beliau juga salah satu dosen yang mengajar saya waktu kuliah dulu di Jurusan Gizi Masayarakat dan Sumberdaya Keluarga.

Awalnya saya mengetahui informasi mengenai seminar peran ibu ini dari teman saya. Teman saya itu panitia sekaligus master terapi yang juga menyampaikan pembekalan terapi dalam sesi seminar tersebut.

Alhamdulillah waktunya pas saya bisa, anak-anak juga sudah libur sekolah. Sehingga saya menyanggupi dan segera mendaftar menjadi peserta.

Latar belakang diadakannya seminar ini, selain untuk memperingati hari ibu, juga karena adanya kekhawatiran atas maraknya penyimpangan perilaku yang sering terjadi akhir-akhir ini, termasuk di dalamnya kasus L987.

Walaupun singkat, materi seminar peran ibu yang disampaikan Prof Euis cukup padat dan saya akan merangkumnya di bawah ini.

Apa dan Lingkup Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai standar nilai dan moral. Sebagai seorang muslim hendaknya kita menggunakan standar Al Quran untuk memahami konsep nilai-nilai yang kita anut. Seperti benar-salah, halal-haram, baik-buruk, etis-tidak etis, pantas-tidakpantas dam boleh-tidak boleh.

Yang menjadi masalah adalah, saat ini standar nilai dan moral sudah mulai bergeser. Contoh kecilnya saja. Beberapa kali beredar foto di sosmed, anak muda yang dengan asyiknya bermain hape sambil duduk di bangku dalam kereta, sementara ada ibu hamil berdiri di dekatnya

Banyak juga contoh dengan skala lebih besar yang terjadi di negara kita. Dengan dalih toleransi, orang-orang bisa melakukan suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Seperti persekusi yang terjadi pada ulama beberapa waktu lalu.

Untuk kasus L987, kita tau dalam Al Quran kisah kaum Nabi Luth yang diazab oleh  Allah karena mereka gay. Berarti sudah jelas larangannya dalam Al Quran. Maka, jika dia seorang muslim dan memegang teguh nilai-nilai Al Quran sebagai pandangan hidupnya, sudah seharusnya menjauhi perbuatan yang dilarang tersebut.

Kalaupun ada gangguan hormon yang menyebabkan kecenderungan seseorang tampak kelaki-lakian padahal dia perempuan, atau sebaliknya. Hal tersebut bisa diatasi dengan terapi hormon, kemudian dilakukan pendekatan keagamaan, dst.

Menurut data yang diungkap oleh Prof Euis, angka kasus LSL yang sudah terdata di Indonesia sudah cukup tinggi. Pada tahun 2011 ada sekitar 1.600.000 orang. Angka ini meningkat 39% dari tahun 2009.

Kemudian ada 24 organisasi pendukung L897 sebagai HAM. Mereka punya target untuk meningkatkan populasinya minimal 3% dari penduduk Indonesia atau sekitar 7,8juta orang.

Prof Euis juga mengungkapkan bahwa ada gerakan gay politik secara internasional. Di beberapa negara malah pernikahan sesama jenis sudah dilegalkan oleh undang-undang.

Di Indonesia sendiri, gerakan ini sudah nampak semakin meluas. Ditolaknya permohonan Prof Euis dkk oleh MK, mengenai hukuman penjara bagi pelaku L987 pada tahun 2016 lalu, membuktikan adanya dukungan dari pemerintah terhadap gerakan L987.

Faktor Perilaku Seks Menyimpang

Dari penelitian yang diterbitkan PFOX.org terhadap kembar identik membuktikan bahwa satu orang kembar memiliki perilaku gay, sementara saudaranya tetap normal. Ini menunjukkan bahwa perilaku menyimpang ini tidak diturunkan secara genetik, namun lebih karena pengaruh lingkungan.

Yang membuat saya bergidik ngeri adalah anak-anak dan remaja sudah mulai terpengaruh pornografi. Prof Euis menyebutkan angka yang cukup mengejutkan.

97,5% remaja sudah mengakses pornografi
64% melakukan hubungan seks sebelum menikah
22% siswi melakukan aborsi

Yang saya lupa mencatat, penelitian apa dan dimana yang menjadi dasar munculnya angka-angka tersebut. Mungkin saking kagetnya.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika beberapa waktu lalu tersiar kabar tentang terbongkarnya komunitas gay anak SMP dan SMA di Garut.

Belum lagi berita adanya grup WA anak-anak SMP di Cikarang yang anggotanya berbagi video porno dan saling mengajak berhubungan badan.

Astagfirullahaladziim. Ngeri banget.

Ibu mana yang tidak hancur ketika mengetahui anak kesayangannya melakukan perbuatan laknat tersebut.

Itu semua adalah fakta mengerikan yang terjadi di dekat kita. Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap itu semua.

Keluarga Sebagai Benteng Pertahanan

Disinilah posisi keluarga, khususnya seorang ibu berperan sebagai benteng pertahanan terhadap pengaruh buruk lingkungan, termasuk bahaya pornografi dan L987.

Namun yang harus menjadi catatan, keluarga bisa sebagai benteng pertahanan, jika dan hanya jika:

  • menjadikan agama sebagai sumber nilai sehingga mendasari cara pandang, perilaku, aksi reaksi dan keputusan keluarga
  • memenuhi peran fungsi-tugasnya, membangun lingkungan yang mencegah munculnya penyimpangan seksual.

Sebagai ibu harusnya kita menyadari bahwa L987 bukan lagi masalah yang bisa kita abaikan begitu saja. Tidak seharusnya kita cuek atau tidak peduli. Berpikir asal bukan kita. Yang penting bukan keluarga kita. Orang lain mah sebodo amat.

Ga bisa begitu juga.

Jadi sudah saatnya, seorang ibu sebagai benteng pertahanan terdepan, aware terhadap masalah ini.

Pencegahan Adalah Inti Perlindungan

Perilaku menyimpang memang dapat disembuhkan. Sudah banyak kisah-kisah yang menjadi buktinya. Namun kalau sudah terjadi penyimpangan itu, maka keadaan tidak akan sama lagi.

Oleh karena sangatlah penting mencegah terjadinya hal-hal atau keadaan yang tidak diinginkan. Seperti pepatah kesehatan, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Peran Ibu Menangani Perilaku Menyimpang

Seorang ibu sebagai figur di rumah untuk mengajarkan nilai-nilai dan standar norma baik buruk, kepada anak-anak nya sejak dini. Untuk bisa melakukan tugas dan perannya sebagai inti pertahanan keluarga, ibu harus memiliki kompetisi tertentu. Dengan demikian ibu bisa melakukan tindakan pencegahan, penanganan dan pemulihan yang diperlukan.

Untuk itu, seorang ibu itu harus berkualitas dan bahagia. Ciri-cirinya adalah:

  • berkepribadian baik dan sehat
  • kompeten dan berpengetahuan luas
  • terampil mengelola sumberdaya
  • terampil mengelola risiko
  • sehat dan bugar

Prof Euis juga menambahkan, seorang ibu mestinya sudah mencapai tahap pengembangan generativity, dimana fokus hidupnya tidak lagi dirinya sendiri tetapi memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain dan lingkungannya.

Bagaimana bisa ibu memberikan teladan untuk anak-anaknya, jika dirinya sendiri masih sibuk mencari jati diri atau belum mencapai taraf perkembangannya sebagai individu.

Yang menarik, Prof Euis sempat menyebutkan bahwa beliau juga mengadakan pelatihan ketahanan keluarga. Ciri-ciri keluarga yang berketahanan yaitu:

  • masing-masing anggotanya memenuhi dan berbagi peran, fungsi dan tugasnya
  • adanya komunikasi dan interaksi yang baik
  • pengelolaan sumberdaya dan stres
  • adanya transaksi positif dengan lingkungan.

Lalu bagaimana strategi keluarga untuk mencegah perilaku menyimpang?

  1. Menjadikan agama sebagai landasan atau dasar kehidupan
  2. Menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi keluarga terutama anak, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja dan lingkungan pergaulan.
  3. Memiliki kekuatan antisipasi, prediksi, dan keterampilan manajemen risiko, termasuk mengenali dan mencegah ancaman, menurunkan kerentanan, mengenali ciri generasi milenial dan mengontrol akses media digital pada anak-anak.

Satu hal yang penting yang ditekankan oleh Prof Euis adalah memperhatikan aqil baligh anak-anak. Jangan sampai ibu tidak tau kapan anak-anaknya mulai baligh. Akibatnya si anak mencari sendiri informasi dari luar yang belum tentu baik dan benar.

Apalagi anak-anak sekarang lebih cepat mencapai usia baligh. Seperti juga anak-anak saya yang sudah baligh sejak usia 12 tahun.

Setelah paparan materi seminar peran ibu oleh Prof Euis, sesi selanjutnya adalah belajar terapi instan healing. Walaupun cukup singkat, terapi yang disampaikan cukup bermanfaat.
Peserta diajarkan metode penyembuhan self terapi, termasuk NLP, hipnoterapi dan EFT.

Saya sendiri pernah mengikuti pelatihan terapi hypnosis beberapa tahun lalu, tapi karena jarang praktek akhirnya lupa semua.

Menjelang seminar peran ibu berakhir, Walikota Bogor, Kang Bima Arya, menyempatkan hadir dan memberi sedikit sambutan.

Apa yang dibicarakan Kang Bima bisa disimak dalam video berikut. Terima kasih Mbak Isma yang sudah berbagi rekaman videonya.

Satu hal menarik yang disampaikan oleh Kang Bima, ternyata Pemda Bogor punya program Sekolah Ibu, dimana ibu-ibu dalam satu kelurahan diberi pelatihan-pelatihan dalam rangka ketahanan keluarga.

Wah, entah di Bekasi sudah ada atau belum program semacam itu, mesti saya cari tau nanti.

Seminar peran ibu ditutup dengan healing massal, dimana semua peserta diberi sugesti kesembuhan oleh terapist. Bahkan bagi peserta yang masih merasa sakit diberi kesempatan untuk diterapi lagi di akhir acara.

Demikian, sekelumit oleh-oleh dari seminar peran ibu kemarin. Semoga bermanfaat.

YOU MIGHT ALSO LIKE

Leaver your comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.