Bromo Trip 2018
Keluarga

Malang – Bromo Trip 2018

Alhamdulillah akhir pekan kemarin saya bisa menghabiskan liburan dengan berwisata ke Bromo, Malang bersama dengan keluarga. Trip kali ini seperti hadiah kenaikan kelas bagi anak-anak karena mereka naik kelas tahun ini.

Bahkan Hanum bisa mempertahankan prestasinya dengan meraih peringkat 1 seperti di Semester 1. Semoga di kelas 8 nanti, Hanum bisa lebih sukses lagi dan Zhafif yang tahun ini duduk di kelas 6 bisa masuk di SMP dengan nilai NEM yang tinggi.

Aamiin ya robbal alamiin…

Sama halnya ketika wisata ke Yogya – Dieng beberapa bulan lalu, perjalanan ke Malang dan Bromo kali ini juga sudah direncanakan jauh-jauh hari, dan juga pergi bersama Bude dan sepupunya anak-anak.

Bedanya wisata kali ini ikut rombongan yang diatur oleh trip organizer @sakudikit. Mulai dari pemesanan tiket kereta pp, penginapan, makan dan transportasi selama di Malang dan Bromo sudah diatur oleh mereka. Saya… ehh..tepatnya pak suami yang tinggal bayar aja.

Malah waktu itu pembayarannya bisa dicicil dua kali lho. Setengah di awal Mei kalo tidak salah untuk pesan tiket keretanya duluan, sisanya sebelum tanggal keberangkatan sudah dilunasi. Harga per orangnya hanya Rp 800.000. Cukup murah kalo kata saya mah.

Dua hari sebelum keberangkatan saya udah siap-siap. Nge-pack baju ganti lengkap dengan baju hangat, kupluk, kaos kaki dan sarung tangan. Sudah kebayang dinginnya Bromo karena saya sudah pernah berkunjung ke Bromo sebelumnya.

Pertama kali ke Bromo tahun 2001. Saat itu saya jalan-jalan bareng dua sahabat kesayangan, Rina dan Mia. Perjalanan spontan yang ga direncanakan jadi tanpa persiapan jaket atau baju hangat. Kaos kaki aja beli di tempat.

Bromo 2001

Pas di puncak kawah Bromo, kami bertiga sempat mengucap dalam hati. Suatu saat nanti bakalan balik ke Bromo lagi dengan pasangan masing-masing.

Rupanya malaikat mencatat doa saya waktu itu. Tujuh belas tahun kemudian saya beneran bisa balik ke Bromo lagi, tidak hanya dengan pasangan saya, tetapi juga dengan anak-anak tercinta. Masya Allah 🙂

Berangkat dari Jakarta hari Sabtu tanggal 30 Juni 2018, naik kereta Matarmaja kelas ekonomi. Jadwal keberangkatan kereta pukul 15.15. Sampai di Malang hari Minggu pukul 07.51. Lama perjalanan yang panjang hampir 16 jam.

Namanya juga kelas ekonomi, kursi duduknya kurang nyaman, dengan sandaran lurus dan jumlah orang per bangku 3 di baris kiri dan 2 di baris kanan . Ber-Ac tapi ga dingin. Udah gitu duduk di depan orang asing, ga bisa seenaknya selonjorkan kaki. Semalaman nyaris ga bisa tidur. Luar biasa ga nyaman deh pokoknya. Walhasil, badan pegel-pegel semua begitu turun dari kereta.

Tapi begitu keluar stasiun disambut angin sepoi-sepoin yang dingin. Nyess…sejuknyaaa. Segela ketidaknyamanan tadi jadi hilang seketika. Langsung bersemangat untuk memulai perjalanan wisata di kota Malang.

Tempat wisata yang pertama kali dikunjungi adalah Kampung Warna Warni. Lucu juga melihat semua bangunan di kampung ini di cat dengan tema warna-warni yang menarik. Konon kabarnya, dulu kampung tersebut kumuh dan terbelakang.

Namun setelah ada mahasiswa Public Relation yang melakukan tugas praktikum di kampung tersebut mencetuskan ide kampung warna warni bekerja sama dengan perusahaan cat setempat, akhirnya kampung ini terkenal sebagai tempat wisata yang nge-hits di kota Malang.

Ada dua gerbang masuk ke kampung warna warni. Satu lewat Kampung Tridi dan satu lagi lewat Kampung Jodipan. Kedua kampung ini dipisahkan oleh sungai yang dihubungkan dengan Jembatan Kaca. Tiket masuk untuk masing-masing kampung hanya Rp 3000 kalo ga salah sih. Dan sebagai ganti tiket masuknya kita dapat souvenir gantungan kunci dan stiker.

Setelah dari Kampung Warna Warni, kami langsung di antar ke homestay untuk bebersih dan istirahat, yang berlokasi di Gubug Klakah.

Perjalanan ke homestay memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sepanjang jalan saya tertidur jadi ga tau jalan-jalan mana yang dilewati. Tau-tau sudah sampai dan diturunkan di Kantor Desa Gubug Klakah. Disitu kami di breifing dan dibagi homestay mana yang akan ditempati.

Ternyata letaknya persis di depan kantor desa. Tinggal di homestay jadi berasa sedang menginap di rumah saudara. Begitu datang langsung disediakan teh manis hangat. Rupanya si Ibu pemilik rumah masih memasak dengan kompor tungku, jadi rasa tehnya khas sekali ada asap-asapnya gitu. Jadi inget tehnya nenek zaman dulu 😀

Kami juga disediakan makan yang dimasak oleh Ibu pemilik rumah. Makanan khas rumahan seperti tempe goreng dan sambel untuk makan siang hari itu.

Selesai sholat dan istirahat sebentar, kami sudah harus siap-siap lagi untuk jalan ke wisata air terjun Coban Pelangi dan petik apel. Sayangnya karena waktu yang tidak memungkinkan, kami ga sempat jalan langsung ke lokasi air terjunnya. Cuma jalan ke spot foto dan melihat air terjun dari kejauhan.

Wisata berikutnya memetik apel langsung di kebun. Kami diperbolehkan makan apel sepuasnya, tapi kalo mau membawa pulang apel hasil petik sendiri, diharuskan membayar Rp 20.000 per kilo.

Sampai homestay lagi sudah sore. Si Ibu sudah menyiapkan soto ayam untuk makan malam. Sotonya uenak banget ditambah sambal kemiri yang pedas bikin saya nambah 2x hehe…

Selanjutnya acara bebas dan istirahat tidur untuk persiapan melihat sunrise nanti. Saya menyalakan alarm jam 1 pagi biar ga kebablasan tidur sampai pagi 😀

Senin dini hari, saya bangun karena suara alarm. Untungnya ada pemanas, sehingga saya tetap bisa mandi walaupun airnya sedingin air es. Jam 2 kami sudah dijemput, naik jeep ke Seruni Spot, tempat melihat sunrise.

Masya Allah, dinginnya luar biasa sampe ke tulang. Biar sudah pakai baju rangkap 4 plus kupluk, kaos kaki dan sarung tangan, rasa dinginnya masih terasa. Apalagi trus berwudhu untuk sholat subuh. Bibir, tangan dan kaki sampai kaku dan jadi kebal ga berasa.

Alhamdulillah, sunsetnya cantik sekali. Setelah puas berfoto, perjalanan dilanjutkan kembali ke kawah Bromo. Saya ngajak anak-anak untuk naik sampai puncak supaya ga penasaran dan pengalaman seru buat mereka.

Luar biasa penuhnya mungkin karena lagi musim liburan juga, jadi banyak orang berkunjung. Setelah dari kawah, dilanjutkan ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies untuk foto-foto sampai puas.

Balik lagi ke homestay untuk persiapan pulang. Masih dapat makan siang untuk terakhir kali. Menunya pecel dan telur ceplok. Alhamdulillah, akhirnya ketemu sayuran ijo juga setelah beberapa hari libur 😀

Jam 2 siang, kami sudah dijemput lagi untuk diatar ke stasiun. Sebelumnya mampir dulu ke GO Goedang Oleh-oleh Malang. Pilih-pilih beberapa makanan kecil seperti kripik macam-macam buah untuk oleh-oleh.

Sampai stasiun jam 4 sore. Jadwal keberangkatan kereta pukul 17.30. Masih ada waktu saya untuk bertemu teman lama waktu kuliah, yang sudah 18 tahun tidak berjumpa. Sebelumnya kami memang sudah janjian ketemu.

Alhamdulillah, walopun cuma sebentar bisa ketemuan juga. Eh trus dioleh-olehi pula. Alhamdulillah makasih banyak ya Yaya sayang. Insya Allah, lain kali ada kesempatan main lagi ke Malang, pengen juga berkunjung ke rumahnya.

Saatnya meninggalkan kota Malang yang adem dan sejuk. Kunjungan yang sangat singkat namun cukup berkesan.

Pulang ke Jakarta masih dengan kereta yang sama, Matarmaja kelas ekonomi. Lebih ga enaknya lagi saat pulang, nomor kursi kami terpisah-pisah. Malah budenya Hanum kebagian di gerbong terpisah. Yasudah, terima nasib aja deh. Yang penting bisa pulang 😀

Sampai lagi di Jakarta pukul 09.15. Turun di stasiun Jatinegara lanjut dengan commuter line sampai stasiun Cakung. Sampai rumah sekitar jam 11an.

Alhamdulillah, selesai sudah liburan sekolah kali ini. Waktunya berkutat lagi dengan cucian dan setrikaan. Untungnya masih masih ada oppa Jang Hyuk ganteng di drama Korea Wok of Love yang setia menemani saya bertugas di rumah…he he he…

Tinggalkan Jejak

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: