Mengatasi Susah Buang Air Kecil

Saat saya mengantar Zhafif  ke dokter gigi minggu yang lalu, ga sengaja saya bertemu teman yang sudah lama ga bertemu.

Setelah ngobrol panjang lebar kesana kemari, saya diberitahu bahwa teman saya itu menderita kesusahan saat buang air kecil atau sering dikenal dengan penyakit anyang-anyangan.

Saya pribadi belum pernah mengalami anyang-anyangan…haduuuh jangan sampai deh…

Jadinya saya malah penasaran seperti apa sih penyakit anyang-anyangan itu. Bukannya penasaran ingin merasakan lho ya, hehehe…

Tapi ingin tahu penyebab atau gejala-gejalanya supaya terhindar dari penyakit tersebut.

Maka berselancarlah saya di Google.

Dan hasil penelusurannya saya kisahkan berikut ini.

Menurut Wikipedia, penyakit anyang-anyangan atau dalam bahasa medisnya infeksi saluran kemih merupakan penyakit pada saluran kemih yang disebabkan oleh infeksi bakteri, umumnya oleh bakteri jahat Escherichia coli.

Pada infeksi saluran kemih bawah (dikenal dengan sebutan sistitis), gejala yang paling sering ditemukan meliputi rasa terbakar, perih dan panas ketika buang air kecil, dan harus sering buang air kecil namun yang keluar hanya sedikit dan disertai rasa nyeri.

Sedangkan pada infeksi saluran kemih atas (disebut pielonefritis atau infeksi saluran ginjal), selain mengalami gejala di atas mungkin juga mengalami nyeri panggul, demam, atau mual dan muntah. Terkadang urin dapat tampak berdarah atau mengandung piuria (nanah yang dapat terlihat di urin).

Kabar buruknya, wanita memiliki resiko 50% lebih tinggi terkena penyakit infeksi saluran kemih dibanding laki-laki. Hal ini karena secara anatomi jarak antara saluran kemih (uretra) ke saluran pembuangan air besar (BAB) lebih dekat, sehingga rentan mengalami gangguan di seputar saluran kemih.

Gambar: menarailmuku.blogspot.id

Bahkan pada wanita menopause yang mengalami penurunan hormon estrogen, resiko terkena penyakit ini meningkat seiring dengan hilangnya flora vagina yang melindungi.

Malah disebutkan bahwa wanita yang menderita penyakit ini mungkin mengalami kekambuhan berulang hingga 3x atau lebih dalam setahun.

Jika seseorang wanita mengalami infeksi saluran kemih di usia muda, maka sekitar 20 persennya akan mengalami infeksi berulang selama hidupnya.

Wah serem juga ya…

Selain karena infeksi bakteri, resiko penyakit infeksi saluran kemih bisa meningkat disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah sering mengkonsumsi minuman diuretik seperti tek kopi dan alkohol. Bisa juga karena bawaan keluarga, belum disunat, sering menahan buang air kecil, diabetes, pembesaran prostat atau karena kehamilan dan rasa cemas (psikologis).

Lalu bagaimana cara mengatasi susah buang air kecil karena infeksi saluran kemih?

Dari Wikipedia disebutkan penelitian Wang, Fang, & Chen et al (2012) menunjukkan, penggunaan ekstrak Cranberry bisa menurunkan insiden pada orang yang terinfeksi.

Lalu kemudian saya cari kata kunci “Cranberry untuk mengatasi susah buang air kecil” di Google, ketemu lah produk Uricran dari Combiphar, yaitu ekstrak Cranberry dalam kemasan praktis kapsul dan bubuk, sebagai solusi alami untuk mengatasi dan mencegah anyang-anyangan.

Berikut ini informasi produknya yang dikutip dari web aslinya.

Gambar. uricran.co.id

Prive Uricran, ekstrak cranberry dalam bentuk kapsul.  Dalam 1 box Prove Uricran terdiri dari 30 buah kapsul dengan komposisi setiap kapsulnya mengandung 250 mg ekstrak Cranberry.

Dosis penggunaan 1-2 kapsul per hari.

Gambar. uricran.co.id

Sedangkan Prive Uricran Plus merupakan ekstrak Cranberry dalam bentuk bubuk.

Satu box Prive Uricran Plus terdiri dari 15 sachet dengan komposisi setiap sachetnya mengandung 375 mg Ekstrak Cranberry, 60 mg Vit C, 0.1 mg Lactobacillus Achidopillus, dan  0.1 mg Bifidobacterium bifidum.

Dosis penggunaan 1-2 sachet per hari.

Nah, apabila diantara Anda ada yang sedang mengalami susah buang air kecil, dan ingin mengatasinya dengan cara alami tanpa repot, mengkonsumsi Prive Uricran atau Prive uricran Plus merupakan pilihan yang tepat.

Praktis dan mudah didapat di apotik terdekat.

 

Facebook Comments

Leave a Reply