Berpikir Sederhana

:takut Tadi subuh, suami saya membangunkan saya dengan nada cemas. Bu, pompa air rusak!

Ealah…kirain ada apa. Tapi tak urung saya ikutan cemas juga. Soalnya udah kebayang banyak pekerjaan rumah tertunda karena ga ada air. Cucian baju numpuk, piring kotor, belom mandi… duh, mau ada demo masak di rumah lagi. Hadooooh.

Saya lihat suami saya langsung bongkar mesin pompa. Layaknya seorang ahli, dia bilang mesin pompa harus diservis karena ada kebocoran kecil di mesin, malah ada kemungkinan untuk gali sumur baru..bla..bla..bla…

Aduh, makin mumet lagi saya dibuatnya. Kalkulator di otak saya langsung bekerja cepat, menghitung-hitung berapa biaya servis pompa, gali sumur baru, ongkos jasa, beli pipa-pipa…waaaaaw bakal ada pengeluaran besar tak terduga nih.  :mewek

Saya coba kasih saran untuk dicek dulu radar otomatisnya. Sebelumnya pernah kejadian juga. Dikira pompa rusak padahal cuma kabel radar otomatis yang putus digigit tikus. Saya pikir kemungkinan masalah yang sama terulang lagi.

Tapi ya namanya juga bapak-bapak, mungkin merasa lebih tahu, dia keukeuh bilang mesinnya rusak harus panggil tukang servis. Maka segera diteleponlah si bapak tukang servis langganan. Ga lama kemudian bapak servis datang tepat sebelum suami berangkat kerja.

Maka jadilah suami saya batal berangkat. Dia sibuk sama bapak servis sementara saya mandikan anak-anak. Sesekali saya ikut nimbrung, pingin tau juga separah mana kerusakan yang terjadi pada pompa air.

Setelah kotrak kotrek sebentar (hihi…bahasa apaan tuh), bapak servis coba menyalakan pompa air dan tadaaaa…. si pompa menyala dengan nyaringnya. Uhuyyyy

Saya pandang suami saya yang tercengang sambil cengar cengir malu. Ternyata bener apa kata saya kan. Bukan pompanya yang rusak tapi radar otomatisnya yang bermasalah. Selamat deh uang saya hihihi…. :ngakak

Apa yang bisa dipetik dari kejadian ini? Saya tidak bermaksud menggurui lho ya. Hanya ingin berbagi aja berdasarkan pengalaman tadi pagi.

Bahwa kita terbiasa berpikir rumit tentang segala sesuatu. Belum ada analisa yang benar-benar akurat sudah berani memastikan bahwa ini susah itu ribet dan lain sebagainya. Padahal kita belum mencobanya. Bagaimana kita bisa tahu buah jeruk itu manis rasanya hanya dengan melihat kulitnya aja. Tentu harus mencicipinya dulu baru bisa merasakan manisnya buah jeruk itu bukan?

Nah demikian pula dengan bisnis online yang sedang saya jalani bersama dBC Network. Saya mencoba berpikir sederhana dalam menjalankan bisnis ini. Selalu berpikir positif bahwa saya bisa dan pasti mewujudkan mimpi-mimpi saya. Entah bagaimana caranya pokoknya pasti akan tercapai suatu hari nanti.

Buat teman-teman prospek, jangan berpikir bagaimana kalo ga dapat donlen. Tapi berpikirlah positif saya pasti dapat donlen. Seperti hukum law of attraction, kalo kita berpikir ga bisa maka yang terjadi adalah kita ga bisa apa-apa. Ingat lho ada malaikat yang mencatat. Apa yang kita pikirkan itulah yang terjadi dalam hidup kita.

So, jangan mudah menyerah. Berusahalah terus maka dunia ada dalam genggamanmu.

Semangaatttttt! :cendol

Facebook Comments

28 thoughts on “Berpikir Sederhana

  1. delia says:

    Wahhh blognya bagus banget…
    setuju mbak…… lia selalu menekankan begitu..
    hidup ini sudah ribet jangan dibuat ribet…hehheheh ^_^
    Berpikir sederhana malah hasilnya bisa luar biasa..
    seperti bisnis itu kan mbak…

    salam kenal :peluk

  2. herlina mutmainah says:

    kalo urusan pompa, genteng bocor dan kerusakan rumah laen sih..itu aku yang ngurusiiinnn heheheh, soale tau pasti kalo suami yang ngurusin malah jadi ribet (yang malah jadi rusak ato kalo nyari tukang servis, malah dapet yang harganya kemahalan)….
    Nambah saran ah, untuk berfikir simple/sederhana, selain berfikir positif, memiliki rasa yang juga positif. Selain itu yang terpenting adalah jangan panik. mencoba berfikir tenang…

Leave a Reply