Nostalgia

Bekasi, 4 September 2009

Hari ini, 5 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 4 September 2004, aku resmi menjadi istri seorang lelaki bernama Endrato Setiadi. Tidak terasa usia pernikahan kami sudah menginjak tahun kelima. Rasanya baru kemarin aku dikenalkan oleh seorang teman dengan Mas Endra. Ah, jadi ingin bernostalgia, sekedar mengenang masa lalu.

Waktu itu, tanggal 6 Mei 2004 aku janjian ketemu dengan Mas Endra untuk pertama kalinya. Kami sepakat untuk ketemu di Gramedia, Jl Pajajaran Bogor pukul 13.00 WIB. Seminggu sebelumnya kami dikenalkan lewat telepon oleh teman saya, Yuni. Setelah rajin menelpon dan sms setiap hari, Mas Endra mengajak aku bertemu langsung dan aku menyanggupinya. Kami menyebutkan dress code masing-masing agar tidak salah orang. Aku masih ingat dengan jelas, waktu itu Mas Endra memakai kaos oranye dan jins biru, sedangkan aku memakai blus warna pink dan kerudung senada.

Sebelum berangkat, aku minta ijin mama dan meminta doa beliau. Adikku, Muti tiba-tiba nyeletuk, “Coba deh gw pengen tahu yang namanya jodoh, kumaha sih,” katanya setengah bercanda. Aku hanya menjawab, “doakeun we,” sambil tersenyum. Lalu dengan langkah mantap aku berangkat menuju tempat yang dijanjikan.

Sesampainya di Gramedia, waktu baru menunjukkan pukul 12.30 WIB. Wah aku kecepetan setengah jam nih, pikirku. Sambil menunggu, aku melihat-lihat buku dan sesekali melihat sekeliling mencari-cari lelaki berbaju oranye. Di bagian buku-buku kedokteran aku melihat seseorang memakai baju oranye. Jantungku kontan berdetak lebih kencang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Kudekati orang tersebut sambil harap-harap cemas. Lalu tiba-tiba saja orang itu menengok ke arahku, membuat aku kaget lalu segera berpaling dan berjalan menjauh. Aku berdoa dalam hati, mudah-mudahan bukan ini orangnya. Sebab, wajahnya terlihat menyeramkan hehe…Kalau iya, aku sempat berpikir untuk kabur dari tempat itu.

Ya Allah, mudah-mudahan bukan dia orangnya, doaku dalam hati, terus berulang-ulang. Dan ternyata memang bukan dia orangnya karena setelah aku berjalan di antara buku-buku, tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang. “Ratna, ya?” tanyanya sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Sewaktu aku berbalik, tampak seraut wajah tersenyum menatapku lembut. Aku membalas tersenyum dan ganti bertanya, “Mas Endra, ya?”. Sewaktu dia mengangguk mengiyakan kusambut uluran tangannya seraya menyebutkan nama.

Dari Gramedia, kami memutuskan untuk pergi makan siang sambil ngobrol-ngobrol santai. Mas Endra menyerahkan padaku untuk memilih tempat. Aku memilih restoran Gurih karena selain makanannya enak, tempatnya juga nyaman dan santai untuk mengobrol. Kami memesan ayam bakar, karedok dan pencok kacang panjang serta es teh manis untuk minumannya. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol santai dan saling menceritakan tentang diri kami masing-masing. Mulai dari soal pekerjaan, hobi, keluarga dan sebagainya. Ceritanya lagi pedekate nih 🙂

Tak terasa, makanan dan minuman sudah disantap habis dan kami sudah mengobrol kurang lebih dua jam lamanya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi pertemuan. Mas Endra memintaku bersedia diantar pulang ke rumah. Aku mengiyakan karena kulihat ia bersikap sopan dan aku nyaman berada di dekatnya. Sesampainya di rumah, kebetulan mama dan papa baru saja pulang dari kondangan, hingga Mas Endra bisa langsung berkenalan dengan kedua orang tuaku.

Mas Endra tampak betah dan kerasan duduk-duduk di teras rumahku. Ia bilang udaranya sejuk dan nyaman. Lain dengan kondisi rumahnya di Jakarta. Setelah sholat Ashar, Mas Endra pamit pulang dan dua jam kemudian mengabarkan padaku lewat sms bahwa ia telah tiba kembali di rumahnya dengan selamat.

Setelah pertemuan itu, Mas Endra makin rajin menelponku. Jika waktu istirahat telah tiba, ia selalu menelponku dari kantornya, dan bertanya banyak hal tentang aku. Aku kerap kali menjawabnya sambil bercanda dan tertawa geli sendiri di telepon, membuat teman-teman di sekantorku memandangku curiga. Ada yang berubah dariku, kata mereka. Kami juga bertemu lagi beberapa kali, bahkan Mas Endra menyempatkan diri hadir di acara pernikahan salah satu kerabatku di Jakarta.

Dan setelah pertemuan yang ketiga, Mas Endra memintaku menjadi istrinya. Tanpa ragu aku menjawab ya. Meskipun aku baru sebentar mengenalnya, entah kenapa aku merasa yakin Mas Endra adalah orang yang baik, bertanggung jawab dan taat beragama sehingga aku tulus ikhlas menerimanya sebagai jodohku, ayah dari anak-anakku. Hatiku tersenyum bahagia karena Allah akhirnya mengabulkan doa-doaku selama ini. Semoga Allah senantiasa meanugerahkan keberkahan dalam pernikahan kami, menjadikan kami keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah. Amiin ya robbal ‘alamin.

Happy 5th anniversary ya Ayah!!

Leave a Reply